Cari

Penderitaan Warga Satu Desa Jual Ginjal, Pasrah Taliban Berkuasa: Aku Lakukan Demi Anak

Posted 17-03-2022 13:01  » Team Tobatimes
Foto Caption: Penduduk desa Shenshayba Bazaar menunjukkan bekas jahitan saat mereka menjalani proses pengambilan ginjal.

TOBATIMES, AFGHANISTAN - Penderitan satu desa jual ginjal demi bertahan hidup. Perjuangan hidup satu desa ini terpaksa menjual ginjal di bawah kekuasaan Taliban. Hampir kebanyakan warga sudah menjual ginjalnya di desa ini.

Adalah Desa Shenshayba Bazaar, Afganistan.

Desa ini belakangan disorot karena sebagain warganya terpaksa jual ginjal. Desa Shenshayba Bazaar di Afghanistan belakangan ini jadi sorotan karena sebagian besar warganya terpaksa menjual ginjal.

Hal ini mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Sebenarnya tidak mau, tapi nggak ada pilihan lain. Aku melakukannya demi anakku," ujar Nooruddin (32), warga setempat, dikutip dari AFP.

Puluhan tahun konflik Amerika-Taliban membuat kondisi ekonomi Afghanistan berada dalam ambang kehancuran.

Kondisi tersebut makin memburuk usai tentara Amerika Serikat meninggalkan Afghanistan pada Agustus 2021 silam.

Hal ini membuat jual beli organ manusia makin marak terjadi, khususnya di desa Sheyshanba Bazaar, Provinsi Herat, Afghanistan.

Saking banyaknya penduduk desa yang menjual ginjal, daerah ini sekarang dikenal dengan sebutan 'Desa 1 ginjal'.

Nooruddin adalah salah satu dari sekian banyak warga desa Shenshayba Bazaar yang memilih untuk menjual ginjal untuk biaya keperluan hidup.

"Sekarang aku menyesal, jadi nggak bisa kerja," kata Nooruddin.

"Aku merasa sakit dan tidak bisa mengangkat barang-barang berat." lanjutnya.

Jual Beli organ manusia biasanya diatur dengan ketat di kebanyakan negara lain.

Akan tetapi, tindakan ini diperbolehkan di Afghanistan asal pihak donor melakukannya dengan sukarela.

Dilansir dari SCMP, seseorang dapat menghasilkan sekitar Rp21 Juta - Rp57 juta hanya dengan menjual salah satu ginjalnya.

"Kami nggak punya apa-apa," kata Aziza, penduduk provinsi Herat.

"Suamiku hanya bisa menghasilkan 100 Afghanis (sekitar Rp16.000) tiap harinya dari berdagang,"

"Anak-anak cuma bisa pasrah menunggu ayahnya, syukur-syukur kalau pulang bawa makanan."

"Pilihanku cuma dua : menjual anak, atau jual ginjal." lanjutnya.

Meskipun begitu, beberapa orang mengaku masih kesulitan bertahan hidup.

Sebagian besar penduduk Afghanistan berada di bawah garis kemiskinan.

Semenjak Taliban mengambil alih pemerintahan, semakin banyak orang kehilangan mata pencaharian.

"Kala itu, kami punya banyak utang," ujar Shakila, warga lain yang menjual ginjal.

"Uang dari jual ginjal itu lambat laun habis dengan sendirinya."

"Nggak ada orang yang menolong kami." lanjut Shakila.

Tren menjual ginjal di Afghanistan tidak ada tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat.

Dikutip dari Tribun Medan