Cari

Sniper Mematikan asal Kanada Bergabung dengan Ukraina untuk Lawan Rusia

Posted 12-03-2022 08:36  » Team Tobatimes
Foto Caption: Ilustrasi

TOBATIMES, UKRAINA - Perkembangan terbaru seputar konflik Rusia dan Ukraina, penembak jitu militer asal Kanada dikabarkan bergabung bersama Ukraina.

Sniper ini disebutkan mampu membunuh target dengan senapan dengan jarak dua mil atau setara dengan 3,2 kilometer.

Dalam pengakuannya, sniper tersebut mengatakan bahwa dirinya hanya ingin membantu Ukraina.

Dilansir oleh Tribunnews.com via Canadian Broadcasting Corporation (CBC), sniper yang diidentifikasi dengan nama Wali itu dikenal sebagai penembak jitu mematikan.

Sebelumnya, Wali bertugas di Resimen ke-22 Royal Canadian Infantry di Kandahar selama Perang Afganistan antara 2009 dan 2011.

Wali juga mengajukan diri untuk berjuang bersama pasukan Kurdi memerangi ISIS di Irak pada 2015.

Dalam aksinya ini, Wali hanya membawa ransel, masker gas, setelan kamuflase, teropong, dan jaket tempur ke Ukraina.

Wali mengaku keputusannya ini didasari rasa kemanusiaan terhadap warga Ukraina.

"Saya ingin membantu (Ukraina). Sesederhana itu," katanya kepada CBC.

"Saya harus membantu karena ada orang di sini yang dibombardir hanya karena mereka ingin menjadi orang Eropa dan bukan orang Rusia," tambahnya.

Ia bersama tiga mantan tentara Kanada menyeberang dari Polandia ke Ukraina pada 2 Maret lalu, bersamaan dengan para pengungsi yang berbondong-bondong melarikan diri.

Wali mengungkapkan, kala itu pengungsi berkerumun dalam bus dan berjalan di tengah cuaca dingin.

Sehari-hari, Wali mengumpulkan rudal anti-tank di gudang, menimbun minyak dan bahan bakar untuk bom molotov serta membeli drone amatir.

Menurutnya, Rusia memiliki gaya perang yang unik dengan meratakan kota-kota menggunakan tembakan meriam dan artileri yang luas sebelum membawa pasukan darat infanteri.

Oleh karena itu, Wali menilai Ukraina harus mampu melumpuhkan helikopter atau tank.

Wali mengaku tidak terlalu tertarik menembak orang Rusia.

Sebagai orang Kristen dan Eropa, dia merasakan keterkaitan tertentu dengan orang Rusia dan mengaku tidak membenci mereka.

Dikutip dari Tribun Medan