Cari

DN Aidit Ternyata Berasal Dari Keluarga Yang Religius

Posted 01-10-2021 12:22  » Team Tobatimes
Foto Caption: DN Aidit

Hari ini tepat pada tanggal 30 September, menjadi sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Sebuah peristiwa berdarah yang mengakibatkan tujuh perwira tinggi militer Indonesia dibantai dalam suatu usaha kudeta yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Kita lebih mengenal peristiwa tersebut dengan nama gerakan 30 September atau G30S/PKI.

Peristiwa tersebut mengakibatkan terjadinya pergolakan besar besaran di seluruh Indonesia. Banyak orang orang yang dicurigai sebagai simpatisan PKI ditangkap dan diinterogasi, tidak terkecuali para pemimpinnya dan salah satunya adalah DN Aidit. DN Aidit yang kala itu menjabat sebagai sekjen PKI diaggap sebagai dalang dari pemberontakan tersebut.

Tak berselang lama setelah pemberontakan PKI yang gagal, DN Aidit pun berhasil diringkus di tempat persembunyiannya di daerah Solo. Kala itu operasi penangkapan dilakukan oleh Kolonel Yasir Hadibroto yang diutus langsung oleh Soeharto. Aiditbersembunyi di kolong lemari dan diketahui oleh salah satu prajurit Yasir. Aidit kemudian digiring ke markas Batalyon Infanteri untuk dihabisi, mayatnya kemudian dibuang di sumur sekitar tempat itu.  Meski begitu desas desus yang menyebar, mayatnya sampai sekarang belum bisa ditemukan secara pasti.

Usut punya usut, ternyata DN Aidit berasal dari keluarga yang religius dan disegani oleh masyarakat Belitung. Ayah Aidit yang bernama Abdullah bin Ismail merupakan seorang tokoh agama dan pelopor pendidikan, sekaligus pendiri sekolah Nurul Islam yang berpaham Muhammadiyah. Saat masa mudanya Abdullah dikenal aktif dalam menyuarakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Sementara ibunya yang bernama Nyi Ayu Mailan merupakan keturuan bangsawan kaya raya. Kakek Aidit yang bernama Haji Ismail adalah pengusaha peternakan kaya raya yang disegani dan dihormati masyarakat. 

Aidit lahir pada tanggal 30 Juli 1923 di Pulai Belitung. DN Aidit memiliki nama kecil Achmad Aidit. Orang orang didesanya biasa memanggilnya dengan nama Ahmad. Ahmad kecil dikenal masyarakat sekitar sebagai anak yang alim, pandai mengaji dan rajin ke masjid. Ahmad juga dikenal sebagai tukang adzan dan muazin yang memiliki suara merdu dan lafal yang bagus. Dia juga diketahui beberapa kali khatam Al-Quran. Aidit juga sangat peduli dengan masjid dan masyarakat sekitar.

Pada tahun 1940, Ahmad mulai merantau ke Batavia dan mendirikan perpustakaan "Antara" yang bertempat di Tanah Tinggi, Senen. Ahmad kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah dagang Handelsschool, dari siniliah ia mulai mengenal dunia politik. Dia belajar tetang paham Marxis dari perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda yang menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia. Sejak saat itulah Ahmad mulai berkenalan dengan tokoh politik besar seperti Soekarno, Bung Hatta, Adam Malik, Chaerul Shaleh dan Muhammad Yamin.

Karena kecerdasan dan kecapakan dalam berpolitik, membuat Ahmad sempat menjadi anak emas dan orang kesayangan bung Hatta. Tetapi lambat laun ketika bung Hatta mengetahui garis politik Aidit tidak sejalan dengannya, mereka akhirnya memilih berpisah. Karena pergaulannya yang semakin luas, Ahmad akhirnya memutuskan mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit, atau yang kita kenal sebagai D.N Aidit. Aidit perpendapat jika nama Ahmad sudah dipakai banyak orang, dan dia memilih mengganti nama yang lebih "Indonesia".

DN Aidit dengan Tokoh Komunis Tiongkok

Awalnya permintaannya ini ditolak oleh ayahnya sendiri. Alasannya adalah karena saat itu proses Administrasi yang dilalui cukup ribet dan nama Achmad sudah terdaftar pada slip gaji Abdullah sebagai pegawai dinas kehutanan. Tapi setiap hari Ahmad merayu abahnya agar diijinkan untuk mengganti namanya. Dan kemudian pada usianya yang ke 18, secara resmi Achmad Aidit mengganti namanya menjadi DN Aidit.

Sikap religiusnya dimasa kecil tidak begitu saja sirna. Sebagai orang yang berasal dari keluarga yang religius dengan masa kecil yang kental dengan agama. Ia sering kali berbicara tentang Islam terutama tentang usaha mengikis tuduhan anti-agama yang disematkan kepada PKI. Aidit bahkan pernah berkomentar keras terhadap partai politik yang mengklaim suatu agama sebagai milik mereka sendiri. Partai politik yang dia maksud adalah Masyumi.

Kiprah AIdit dalam berpolitik terus berlanjut, pada tahun 1955 ia kembali lagi di Indonesia, setelah pelariannya ke Vietnam Utara untuk menyatukan kembali  Partai Komunis yang sempat terpecah, dan pada tahun yang sama Aidit dan PKI berhasil memperoleh banyak pengikut dan dukungan saat pemilu yang diadakan tahun itu. Bahkan membuat PKI menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia. Hingga peristiwa mengerikan pada bulan September itu yang menjungkirbalikan semuanya. Pembantaian keji yang dilakukan oleh PKI menjadi sejarah hitam partai tersebut yang tak pernah bisa dilupakan masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Itulah sepenggal kisah dari sosok DN Aidit yang ternyata berasal dari keluarga terpandang dan religius. Sebuah fakta yang mencengangkan memang, mengingat Aidit adalah dalang dari peristiwa berdarah G30S/PKI. Salah satu hal yang perlu digaris bawahi dari ane (kalo salah tolong dikoreksi) bahwa religius dan radikal adalah dua hal yang berbeda yang terkadang menimbulkan salah persepsi. Religius merupakan suatu keharusan untuk kita sebagai orang yang beragama dan radikal adalah paham buruk yang harus kita hindari.

Dikutip dari Tirto