Cari

Masyarakat Batak dan PT Toba Pulp Lestari ( PT. TPL )

Posted 10-08-2021 13:11  » Team Tobatimes
Foto Caption: Sumber : Facebook KSPPM PARAPAT

Kurang lebih satu bulan ini penulis memperhatikan di media sosial, tentang konflik yang sedang hangat di tanah Batak. Konflik itu sudah mengundang banyak perhatian dari kelompok/organisasi, dan individu pemerhati tanah Batak, hal itu terbukti dari aliansi yang terbentuk yang bertujuan untuk menutup PT. Toba Pulp Lestari ( TPL ) dari tanah Batak. Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat ( KSPPM ), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara ( AMAN ) Tano Batak, dan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumatera Utara ( BAKUMSU ) adalah beberapa lembaga swadaya masyararakat ( LSM ) yang ikut andil membantu masyarakat Batak untuk melawan PT. TPL.

Latar belakang dari resistensi yang dilakukan masyarakat Batak, adalah perebutan lahan yang oleh masyarakat Batak sebagai tanah milik masyarakat adat.

Sebagian sumber dari tulisan ini beranjak dari cerita seorang perempuan yang menjadi teman diskusi terbaik penulis, yaitu Saudari Leorana Sihotang. Ia adalah salah satu sosok perempuan muda yang merelakan masa mudanya, berjuang bersama KSPPM untuk membela Masyarakat Batak. Saudari Leorana Sihotang juga adalah sosok yang memiliki jiwa sosial tinggi terutama terhadap Kaum Perempuan, tak jarang ketika mengetahui kaum perempuan tertindas akan hak dan kewajiban, matanya langsung berlinang. Sudah hampir satu tahun ia ikut mendampingi masyarakat Batak, dalam membela masyarakat untuk melawan PT. TPL.

Penulis sudah dua kali menjadi anggota penelitian dalam mencari jejak permukiman orang Batak di Samosir,  dan masyarakat Batak diyakini oleh orang Batak itu sendiri berpusat dari pusuk buhit. Kemudian dari pusuk buhit menyebar keberbagai wilayah terutama sekitaran Danau Toba. Permukiman orang Batak dahulu juga memiliki kemiripan, perkampungan yang dikelilingi oleh tumpukan batu dengan tinggi kurang lebih tiga meter. Tumpukan batu itu kemudian ditanami tumbuhun bambu yang menempel pada pagar batu, pohon -- pohon bambu itu ikut tumbuh sepanjang pagar batu itu. Perkampungan orang Batak juga pada awalnya dihuni oleh satu keturunan klen/marga tertentu, dengan rumah yang alasnya tidak menempel ke tanah atau memiliki kolong. Kolong rumah masyarakat Batak difungsikan sebagai tempat hewan ternak, seperti ayam, babi. dll.

Kehidupan masyarakat Batak juga pada awalnya tidak lepas dari berternak babi, dan kerbau. Hewan -- hewan itu dipelihara dengan kebebasan tanpa dikurung, tetapi makanannya terkadang masih harus diberi oleh pemiliknya. Jenis hewan babi yang dipelihara orang batak jaman dulu, memiliki jenis kulit hitam. 

Melihat dari sistem agama awal orang Batak yaitu agama Parmalim, ajaran agama parmalim tidak mengijinkan untuk memakan daging hewan babi. Meskipun agama awal orang Batak melarang hewan babi untuk dikonsumsi, namun makanan hewan babi sekarang terhubung erat dengan sistem adat budaya Batak. Acara -- acara adat Batak, sajian makanan daging babi selalu disajikan sebagai hidangan adat. Tidak ada yang tau kapan persisnya orang Batak mulai mengenal sistem berternak babi untuk dijadikan makanan. Jika melihat dari hasil penemuan Arkeolog, menemukan lukisan babi hutan endemik pulau Sulawesi yang diperkirakan sudah berumur 45.000 tahun.

Begitu juga dengan kerbau, yang memiliki peran dalam kehidupan orang -- orang Batak. Kerbau di daerah Batak pada awalnya juga dipelihara di alam bebas, berjarak kurang lebih satu kilometer dari permukiman warga. Kerbau -- kerbau digiring ketempat yang telah ditentukan, agar hewan -- hewan kerbau dapat dengan bebas memakan rumput. Selang beberapa hari kerbau itu akan dibawa ke permukiman dan kemudian dikembalikan lagi ketempat ia biasa makan rumput dengan bebas.

Sistem pemiliharaan ternak kerbau dan ternak babi, juga berlangsung di salah satu desa yang berkonflik dengan PT. TPL yaitu desa Natinggir, Kecamatan Borbor, kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Siapa sangka kemunculan PT TPL, menghilangkan sistem ternak kerbau dan babi, dalam kehidupan masyarakat Natinggir. Masyarakat Natinggir sudah tidak ada lagi yang berternak babi dan kerbau, karena sistem ternak orang Batak yang membebaskan hewan ternak berdampak pada kerusakan tanaman eukaliptus dari PT. TPL. Masyarakat yang ternaknya merusak pohon -- pohon eukaliptus, diberi sangsi denda oleh pihak PT. TPL yang regulasinya dikeluarkan oleh PT. TPL. Masyarakat Natinggir yang notabene masih hidup sederhana, tentunya merasa takut akan denda yang diberikan oleh Pihak perusahaan PT TPL. Masyarakat Natinggir yang tidak ingin diberatkan dengan denda tersebut, memilih untuk menjual hewan -- hewan ternak mereka seperti hewan babi dan kerbau.

Penulis begitu ingat betul, keuntungan orang Batak berternak hewan babi dan kerbau. Ketika berumur sepuluh tahun, dimana penulis berada disalah satu desa orang Batak. Desa itu adalah tempat masa kecil ayah penulis, bentuk pedesaan, rumah dan sistem ternak sama persis seperti sistem sosial orang Batak yang telah penulis paparkan diatas. Saat itu, orang -- orang sangat di untungkan memelihara hewan babi berwarna hitam atau lebih sering disebut sebagai babi kampung.

Ketika ada acara adat atau pesta pernikahan, masyarakat yang mengadakan pesta tidak harus membeli hewan babi lagi. Hewan babi yang mereka pelihara, bisa disajikan sebagai makanan orang -- orang yang hadir dipesta itu dan sebagai hidangan adat. Apabila membeli hewan babi akan menambah biaya pengeluaran, sedangkan sistem ekonomi yang masih pada garis kemiskinan tentunya akan sangat sulit.

Begitu juga dengan kerbau, ia sangat berperan untuk membantu dalam membajak sawah. Kerbau juga difungsikan sebagai mobilisasi barang -- barang pertanian, seperti pupuk dan hasil pertanian. Selain itu, peternak kerbau dapat menjual kerbaunya dan sangat menambah pemasukan ekonomi.

Sungai

Salah satu sungai yang mengaliri daerah permukiman masyarakat Natinggir, sejak kemunculan PT TPL tidak ada lagi masyarakat yang menjadikan air sungai sebagai air minum. Air sungai tersebut dianggap masyarakat sudah tercemar oleh racun penyemprotan, yang berasal dari penyemprotan pohon eukaliptus. Sungai yang pada awalnya bagi masyarakat Natumingka berfungsi sebagai tempat menyuci, sembari bercerita atau saling berkomunikasi, aktivitas itu sudah tidak ada lagi. Air minum masyarakat Natinggir, sekarang mengharapkan salah satunya dari air hujan yang ditampung dan disimpan untuk persediaan beberapa hari. Terkadang juga jika mencukupi, air hujan digunakan sebagian orang untuk mandi dan menyuci pakaian.

Penutup 

Sistem Sosial budaya Orang Batak sudah ada, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dikumandangkan. Begitu juga dengan regulasi tentang tanah, sudah ada sebelum adanya regulasi formal yang mengatur tentang agraria. Regulasi itu berbeda di setiap daerah, yaitu hukum adat ( budaya ) yang sangat dipatuhi oleh masyarakat.

Perjalanan penulis ditanah Batak, melihat orang -- orang Batak dengan mata pencaharian sebagai petani penuh dengan semangat untuk bekerja. Bertani bagi mereka bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan perut saja, tetapi masa depan anak -- anak mereka ada dalam sistem pertanian. Kebutuhan sekolah ( belajar ) anak -- anak petani orang Batak terpenuhi dari hasil bertani, terkadang juga dari hasil upahan bekerja diladang orang.

Pihak PT. TPL yang mengklaim sebagian tanah masyarakat adat, akan tetap memicu terjadinya konflik dengan masyarakat lokal. Bagaimana cara petani untuk bertahan hidup jika tidak memiliki tanah lagi untuk bertani ? Tanah yang dulunya adalah warisan nenek moyang mereka, kini tidak bisa lagi sepenuhnya dikuasai masyarakat lokal.

Pemerintah harus mempertimbangkan lagi, izin penggunaan lahan PT. TPL. Jika PT. TPL bertahan dan trus mengklaim tanah adat sebagai tanah untuk ditanami pohon eukaliptus, para petani akan kekurangan atau kehabisan lahan untuk bertani. Jika petani tidak memiliki tanah untuk bertani, bagaimanakah mereka bertahan hidup ?

Keadilan dan kebenaran akan selalu berlabuh pada posisi yang tepat, namun hal itu terkadang harus diperjuangkan.

Salam

Danri Agus Saragih

Dikutip dari Kompasiana