Cari

Merasa Ditipu, Korban Yayasan SAN di Samosir Wilhelmina Siahaan akan Tuntut Penagih

Posted 02-07-2021 13:53  » Team Tobatimes
Foto Caption: POLEMIK ASURANSI SAN - Seorang nasabah Yayasan Sari Asih Nusantara (SAN) di Samosir Wilhelmina Siahaan yang menyatakan telah dirugikan yayasan SAN pada Jumat (2/7/2021). (TRIBUN MEDAN/ MAURITS PARDOSI)

SAMOSIR - Informasi tutupnya Yayasan Sari Asih Nusantara (SAN) di Samosir membuat sejumlah nasabah merasa ditipu.

Seorang nasabah Yayasan SAN di Samosir Wilhelmina Siahaan (45) menegaskan bahwa pihaknya akan menuntut penagih, sebagai utusan Yayasan SAN tersebut.

"Saya akan menuntut penagih ini karena menurut saya ini seperti merasa ditipu. Ternyata, banyak juga rekan-rekan teman nasabah yang lain merasa seperti itu. Bahkan pada hari sebelumnya, mereka masih menagih ke nasabah," ujar Wilhelmina Siahaan (45) saat dikonfirmasi Tribun-medan.com pada Jumat (2/7/2021).

Ia bercerita soal besaran nominal yang setorkan ke pihak Yayasan SAN tersebut per bulannya.

Bahkan, ada bonus dari simpanan nasabah bila anak nasabah mendapatkan peringkat tiga besar di sekolah.

"Dari pihak asuransi itu datang ke rumah dan menawarkan untuk asuransi pelajar dimana kita diminta membayarkan dengan premi Rp 100 ribu per bulan. Tapi, jika anak saya mendapat rangking 3 besar, maka akan mendapatkan seperti bonus dari jumlah premi yang saya berikan, setengah dari premi setahun," tuturnya.

"Misalnya Rp 100 ribu lah saya berikan tiap bulan dan waktu anak saya terima rapor menjadi tiga besar maka akan mendapatkan sejumlah Rp 500 ribu," sambungnya.

Dengan iming-iming bunga sebesar 2 persen dan bonus pendidikan anak membuat ibu rumah tangga ini tertarik dan segera mendaftarkan tiga anaknya yang tengah duduk di bangku sekolah.

"Saya tertarik itu karena kebetulan anak saya bakal juara maka tiga anak saya masukkan. Kalau bunga sih hanya sekitar 2 persen. Itu yang membuat saya tertarik, dan penarikan sesuai dengan jatuh tempo," sambungnya.

Ia memulai masuk ke dalam yayasan tersebut sejak tahun 2011. Ia juga sempat mendapatkan faedah menabung di yayasan tersebut.

"Maka, ini saya sangka lebih bermanfaat. Setelah lima tahun akan saya tarik. Saya bergabung sejak tahun 2011. Yang saya tabung sejak tahun 2011 itu pada lima tahun setelahnya sudah keluar pencairan. Itu sekitar Rp 6,5 juta," terangnya.

"Selanjutnya, tinggal dua lagi anak saya yang mengikutinya, Tinggal dua lagi anak saya yang mengikutinya. Untuk saat ini, posisinya saya alami kerugian itu sekitar Rp 7,8 juta," sambungnya.

Setelah mendengar bahwa Yayasan SAN di Samosir dinyatakan tutup, ia juga menggali informasi soal yayasan tersebut di kawasan lainnya.

"Saya baru tahu kejadian itu (informasi tutupnya Yayasan SAN) itu pada Jumat (25/6/2021). Tapi, sebelumnya di bulan Januari 2021, saya sudah mendengar informasi dari teman-teman bahwa asuransi ini yang ada di Simalungun, kantornya sudah beberapa yang tutup," ungkapnya.

"Kita cari tahu alasannya. Saat kita tanya ke pimpinan di sini, ia hanya bilang hanya pindah kantor bukan tutup. Kita percaya karena kita kenal," sambungnya.

Dengan keadaan seperti itu, ia merasa ditipu dan akan menuntut pihak yayasan tersebut.

"Pada akhirnya, kita merasa ditipulah. Yang pasti, saya akan menuntut kepada penagih. Jadi, kalau saya pribadi, Pak Sitanggang yang selalu mengutip ke rumah saya, seharusnya di tahun ini dia mengatakan bahwa perusahaan asuransi ini sudah bangkrut atau failid," jelasnya.

"Saya berharap pada pimpinan Yayasan Sari Asih, khususnya yang ada di Kabupaten Samosir harus bertanggung jawab dan ini soal kemanusiaan," pungkasnya.

Dikutip dari Tribun Medan