Cari

Miris, Ruang Kelas SD di Toba Ini Sudah Tiga Kali Ditimpa Longsor hingga Ruang Kelas Terbagi Dua

Posted 14-01-2022 12:30  » Team Tobatimes
Foto Caption: Situasi Sekolah Dasar Negeri 173531 di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba pada Kamis (13/1/2022) yang ditimpa material longsor. (Tribun Medan)

TOBATIMES.COM, TOBA - Sekolah Dasar Negeri 173531 di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba kembali ditimpa material longsor untuk ketiga kalinya.

Material longsor menimpa empat ruang kelas sekaligus.

Empat ruang kelas yang biasanya digunakan oleh siswa sekolah dasar kelas I, II, III, dan IV rusak parah.

Selain rusak parah, ruangan tersebut tampaknya tak bisa dipakai kendatipun direnovasi.

Pasalnya, longsor kembali akan membahayakan keselamatan pelajar.

Komite Sekolah Guntur Sianipar mengatakan kondisi sekolah sedemikan teramat mengkhawatirkan.

Butuh perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toba.

“Sudah tiga kali longsor ini. Kita sangat takut karena kemungkinan terjadi longsor lagi. Kita berharap perhatian serius dari Pemkab Toba,” ujarnya kepada Tribun Medan pada Kamis (13/1/2022).

“Kejadian yang ketiga kalinya terjadi sekitar tiga hari yang lalu. Mulai dari longsor pertama dan kedua, materialnya bertambah hingga membuat seluruh ruang kelas yang berada pada bagian bawah tersebut tidak bisa digunakan lagi. Kita juga mengkhawatirkan keselamatan anak-anak,”katanya.

Longsor yang terjadi sekitar tiga hari yang lalu ini membuat ruang kelas terbelah dua dan tidak bisa digunakan lagi sebagai ruang belajar.

Sehingga, ia berharap para pelajar harus diliburkan guna menghindari risiko longsor yang bisa saja menelan korban.

“Itu tampaknya longsoran susulan. Maka, kita berharap agar anak-anak diliburkan dulu menunggu ada perbaikan atau gimanalah caranya kita nantinya,” terangnya.

Ia menjelaskan setelahlongsor yang kedua, pihak sekolah masih bisa menggunakan ruangan lain yang ada di sekolah agar seluruh murid dapat belajar nyaman.

Setelah peristiwa longsor ketiga ini, ia sebut kemungkinan ruang gereja dan perpustakaan harus digunakan.

“Setelah longsoran yang kedua kemarin, kelas I, IV, V, dan VI masih bisa menggunakan ruangan yang ada di atas itu. Sampai saat ini, saya lihat anak-anak masih tetap belajar tapi mungkin yang mereka gunakan adalah ruang gereja yang berada di samping sekolah dan perpustakaan,” terangnya.

Terkait pemindahan areal sekolah, pihaknya belum bisa memastikan apakah ada lahan yang tepat dan kerelaan masyarakat sekitar menghibahkannya ke pihak pemerintah.

“Kalau soal lahan, susah kita cari di sini, karena memang sebagian besar keluarga hanya memliki satu rante (ukuran tanah, red) saja dan itupun tanah turun-temurun. Susah mungkin kalau untuk menghibahkan. Kalaupun ada, mungkin tanah milik bersama yang harus diratakan menggunakan alat berat karena kondisi (topografi) kita di sini kan berbukit dan berada di pinggiran Danau Toba,” ungkapnya.

Selain sebagai komite sekolah, ia juga sebagai orang tua selalu berpesan agar anaknya tetap berhati-hati saat berada di sekolah.

“Ya, saya bilang supaya jangan pergi ke pinggiran longsor itu. Karena kalau daring pun tidak memungkinkan. Sementara dia harus menunggu UAS (Ujian Akhir Sekolah) karena sudah kelas VI kan,” pungkasnya.

Dikutip dari Tribun Medan