Cari

Cerita Perjalanan dan Pengakuan Minta Maaf Pendeta yang Diduga Lecehkan Situs Raja Batak

Posted 15-12-2021 11:31  » Team Tobatimes
Foto Caption: Pendeta yang dituding lecehkan situs Raja Batak bersama para tokoh Adat Batak

TOBATIMES, MEDAN - Pendeta yang dituding lecehkan situs Raja Batak akhirnya menceritakan terkait perjalanan sewaktu pergi ke Pusuk Buhit, Kecamatan Sianjur Mula - Mula.

Pdt. Ampetua Lumbantoruan Sihombing dari GBI menceritakan awalnya berangkat ke puncak Pusuk Buhit pada 2 Desember 2021 sekitar 05.00 WIB dari kaki gunung.

"Kami menempuh perjalanan 6 jam sampai ke puncak. Kala itu saya melihat ada sesajen. Tapi itu sedikitpun kami sentuh," katanya di Jalan Flamboyan Raya, Kecamatan Medan Tuntungan, Rabu (8/12/2021).

"Lalu kami melakukan doa syafaat, nyanyian rohani dan meniupkan sangkakala. Kami ada sekitar 15 orang," tambahnya.

Dikatakan, tujuan rombongan ini untuk mengetahui apa yang ada di puncak Pusuk Buhit. Sebab, sepengetahuan pihaknya gunung tersebut cukup tinggi dan ada semacam ritual.

Rencana ke Pusuk Buhit itu pun dirancang selama 1 bulan dan sempat dua kali gagal. Satu kali gagal karena tidak mengetahui jalan sementara kedua kalinya tak sampai ke puncak.

"Makanya kemarin kami dipandu oleh para pemuda setempat," sebutnya.

Gembira dengan aksinya bisa sampai ke puncak, ia pun mengekspresikannya dengan meng-upload video ke media sosial.

Tak berapa lama ia pun tak menyangka bahwa ada respon negatif dari netizen yang menyaksikan.

"Jadi aksi saya sewaktu mengucapkan kata - kata yang keliru seolah - olah di puncak itu setan. Selain itu terkesan hanya kami yang paling benar," ungkapnya.

Di samping itu, Pdt. Wahyuan Situmorang yang tampak menaiki tembok situs Raja Batak di Pusuk Buhit juga angkat bicara.

Dikatakan ia adalah orang yang pertama kali sampai di puncak dari rombongannya. Wahyuan akhirnya meluapkan suka citanya karena melihat keindahan Pusuk Buhit.

"Lalu saya naik lah ke tembok itu. Terus saya liat ada bendera. Nah, kalau di foto kan keren semacam Jendral Sudirman," ucapnya.

Dia mengaku tidak mengetahui bahwa ada larangan untuk naik ke tembok tersebut. Pasalnya, dari pemuda yang memandu juga tidak ada yang memperingatkan perihal tersebut.

Meski begitu, keduanya meminta maaf kepada seluruh bangsa Batak yang tersinggung atas tindakannya di Pusuk Buhit.

"Saya janji tindakan serupa tidak akan terjadi lagi. Bangsa Batak tetap bersatulah sebab kita adalah saudara," tutupnya.

Di sisi lain, keduanya pun telah mengucapkan permintaan maaf tersebut kepada Ketua Umum Pomparan Si Raja Batak, Boasa Simanjuntak dan seluruh suku Batak.

Boasa pun mengajak agar bangsa Batak menerima niat baik dari permintaan maaf keduanya.

"Mari kita hentikan kecaman di media sosial terhadap para gembala Tuhan terkait video yang viral. Sebab kita tidak mencari benar salah melainkan saling memperbaiki dan menegur agar lebih baik ke depan," ucapnya.

Dikutip dari Tribun Medan