Cari

Sebelum Red Devil, Predator Bawal Tawar dan Herpes Koi Sudah Merambah Danau Toba

Posted 16-11-2021 12:01  » Team Tobatimes
Foto Caption: Warga Desa Gaol, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun kembali mendapatkan dua ekor bawal berukuran masing-masing 13 Kg per ekor dengan "Tabu-tabu", Sabtu (28/12/2019). (Istimewa)

TOBATIMES, MEDAN - Temuan adanya spesies ikan predator yang disebut Red Devil di perairan Danau Toba (SIB 15/11) mengingatkan publik akan peristiwa serupa yang terjadi pada 1996-1997 lalu, ketika seorang pengusaha perikanan darat Mr Vincent mengungkap adanya semacam spesies ikan baru di Danau Toba, yang kemudian dicurigai sebagai sumber timbulnya virus Herpes Koi.

"Ketika itu, Vincent memaparkan temuan kepada pakar lingkungan hidup dan ekosistem Danau Toba, Ir Jonathan Ikuten Tarigan dan Drs Pontas Pardede di kantor DPRD Provinsi Sumut, dalam bincangan khusus soal wacana operasional dan potensi yang akan timbul dari usaha atau bisnis keramba jaring apung (KJA) di Danau Toba," ujar F Sabar Siltor, pemerhati ekosistem Danau Toba, kepada SIB di Medan, Senin (15/11).

Ikan Hama Red Devils

Foto Ikan Hama Red Devils

Selaku mitra kerja Jonathan Tarigan di PT Kwarsa Hexagan ketika itu, Sabar Siltor mengungkapkan adanya kekhawatiran dan kecurigaan Vincent bahwa spesies ikan predator itu masuk ke perairan Danau Toba tidak dengan sendirinya, bahkan bukan berupa spesies imigran yang berasal dari perairan area hulu atau sekitar Danau Toba sendiri. Hanya saja, dia tidak ingat persis apakah temuan itu langsung dilaporkan ke DPRDSU dan pihak terkait, karena sejak itu memang tidak pernah ada tindak lanjut dari pihak manapun.

Lalu, ujar Sabar, pada pertengahan 2000 lalu, aktivis peduli ekosistem Danau Toba Ir Parlin Manihuruk ketika mulai mengoperasikan bisnis perikanan UKM-nya CV Crispy Pora-pora, juga telah diwanti-wanti akan kehadiran ikan-ikan predator di Danau Toba tersebut. Belakangan, produksi dan operasional Crispy Pora-pora terhenti akibat punahnya ikan pora-pora dibantai ikan predator setempat. Terlebih, area populasi ikan pora-pora yang berpostur kecil mirip ikan teri, malah jadi rambah populasi ikan predator lainnya. Sedangkan pada September 2019 hingga 2020, muncul jenis atau spesies ikan baru yang disebut Bawal Darat dengan postur tubuh yang besar dengan berat 10 hingga 13 kilogram per-ekornya.

"Ironisnya, sejak temuan predator itu, kok seperti tidak ada tindakan dari pihak siapapun untuk kendali ekosistem perairan Danau Toba sebagai antisipasi jangka pendek maupun jangka panjang. Bahkan, tragisnya, ikan-ikan non endemik yang kemudian menimbulkan virus penyakit seperti Koi Herpes (di lain pihak disebut Herpes Coy), malah terkesan dibiarkan dan didiamkan oleh instansi yang harusnya bertindak dan jatuhkan sanksi. Belum lagi masalah dugaan kontaminasi dampak virus dan predator yang tak kalah buruknya dengan arus sedimentasi akibat taburan pakan-pakan ikan di KJA-KJA yang selama ini telah mencemari perairan Danau Toba" katanya prihatin mengisahkan nasib Danau Toba selama 25-27 tahun belakangan ini.

Padahal, ujar dia, publik di daerah ini sempat optimis pemerintah akan bertindak ketika Menko Marves Luhut Panjaitan telah menerima laporan kondisi terkini periran Danau Toba dari pihak Bank Dunia pada 17 November 2018 lalu (persis tiga tahun lalu). Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo A Chaves ketika itu melaporkan kerusakanDanau Toba sudah kian parah karena oksigen hanya terdapat pada kedalaman 50 meter saja, di bawah 50 meter tidak terdapat lagi oksigen.

"Oksigen di perairan Danau Toba sudah tidak cukup dan perairannya pun sudah tidak sehat. Ini harus dibersihkan dan keramba itu harus dibuang semua sehingga Danau Toba zero keramba," tegas Luhut kepada pers usai kunjungan ke kantor BPODT Medan bersama Gubsu T Erry Nuradi, November 2018 lalu.

Dikutip dari Harian SIB