Cari

Massa Geruduk Kejari Toba soal Penganiayaan Raja Bius Motung, Ini Kata Kasi Intel Gilbeth Sitindaon

Posted 19-03-2021 01:50  » Team Tobatimes
Foto Caption: Massa yang menyebut diri masyarakat Motung sambangi kantor Kejari Toba Samosir pada Rabu (17/3/2021)

BALIGE - Kasi Intel Kejaksaan Negeri Toba Samosir Gilbeth Sitindaon angkat bicara atas aksi demonstrasi massa yang menyatakan diri masyarakat Motung yang dipimpin oleh Kosbin Sitorus ke Kantor Kejaksaan Negeri Toba Samosir pada Rabu (17/3/2021).

Saat ditemui di ruangannya, Kasi Intel mengatakan bahwa pihaknya telah menyerahkan berkas adanya penganiayaan kepada Raja Bius Empat Marga di Motung, Sabar Manurung kepada pengadilan. Hingga saat ini, proses hukum di pengadilan sudah berjalan.

Walaupun demikian, pihaknya menjelaskan secara rinci kepada masyarakat Motung tersebut bahwa perkara tersebut sedang bergulir di pengadilan sehingga ia meminta masyarakat langsung berkoordinasi dengan pihak pengadilan.

Untuk mendengarkan aspirasi masyarakat tersebut, pihaknya meminta empat orang utusan untuk audiensi.

“Terkait dengan kasus Agus Manurung dkk, teman-teman media melihat adanya aksi yang dilakukan oleh masyarakat Motung ke Kantor Kejaksaan. Jadi, perlu dikatakan bahwa sebenarnya saya tidak ada menyebut bahwa salah alamat. Mereka menuntut si terdakwa ini ditahan. Sedangkan, para terdakwa tersebut yang tiga orang itu sudah kami limpahkan dan sudah bersidang di pengadilan,” ujar Gilbeth, Kamis (18/3/2021) saat dijumpai di ruangannya.

Ia juga menegaskan bahwa penahanan para terdakwa sudah dilakukan oleh pihak pengadilan, sebab perkara tersebut sedang berjalan di pengadilan.

“Jadi segala sesuatu yang terkait dengan terdakwa dalam hal ini salah satunya itu penahanan itu sudah menjadi kewenangan pengadilan, yakni hakim yang menyidangkan perkara tersebut. Nah, penahanan tersebut keluar bersamaan dengan keluarnya penetapan pengadilan untuk hari sidang,” sambungnya.

Lebih lanjut, ia mengutarakan bahwa pihak pengadilan sudah melakukan penahanan terhadap tiga terdakwa tersebut, yakni penahanan rumah.

“Pada saat itu, penahanan yang mereka lakukan adalah penahanan rumah. Nah, menurut masyarakat bahwa mereka masih berkeliaran dan tidak ditahan, sebenarnya kami sudah menahan. Dan, oleh hakim dilakukan penahanan di rumah,” sambungnya.

Setelah mendapatkan penjelasan secara rinci dari pihak Kejari Toba Samosir, masyarakat Motung berpindah menyampaikan orasinya ke hadapan Kantor Pengadilan Negeri Balige.

“Jadi, kami meminta kepada masyarakat untuk menanyakan kepada pengadilan atau menanyakan kepada hakim yang bersangkutan bahwa mereka melakukan penahanan rumah. Prosedur yang terjadi bahwa dalam proses persidangan itu tidak ditahan dan itu sudah bergulir dan saksi korban pada saat itu datang yang dimana masyarakat merasa terancam dengan kehadiran para si terdakwa. Kami sudah menjawab secara gamblang dan luas kami terangkan semuanya terkait masalah itu. Dan, masyarakat berpindah ke pengadilan,” lanjutnya.

Dalam proses hukum tersebut, ia mengatakan bahwa pihaknya tidak mendapat intervensi dari pihak manapun, bahkan ia menegaskan bahwa tidak adanya pandang buluh dalam proses hukum dalam perkara tersebut.

Terkait hal ini, sebelumnya pimpinan aksi Kosbin Manurung mempertanyakan kenapa Jaksa tidak melakukan penahanan terhadap ketiga orang tersangka, sementara pasal yang dikenakan adalah Pasal 351 junto 170 KUHP, dengan ancaman pidana di atas 4 tahun penjara.

"Kami meduga ada permainan dalam kasus ini, pelaku berkeliaran dan melakukan pengancaman terhadap saudara kami yang lain. Ada apa dengan hukum di Toba ini? Apa karena pihak mereka memiliki deking orang hebat sehingga Jaksa tidak berani menahan," tanya Kosbin.

Dengan tegas, Jaksa Charles Hutabarat membantah tuduhan warga atas adanya permainan dimaksud dalam kasus ini.

Charles menerangkan bahwa sebelumnya, pihaknya telah melakukan penahanan rumah terhadap ketiga pelaku.

"Penahanan itu ada tiga jenis, ada tahanan penjara, tahanan rumah dan tahanan kota. Kepada ketiganya kita terapkan tahanan rumah dan mereka wajib lapor 2 kali dalam seminggu," terang Charles.

Dikutip dari Tribun Medan