Cari

Misteri “Uhang Pandak” di Jambi, Mirip Homo Florensiensis

Posted 06-11-2021 11:22  » Team Tobatimes
Foto Caption: Uhang Pandak (m.kaskus.co.id)

Tahukah Anda di negara kita, tepatnya di propinsi Jambi, ada yang membuat penasaran para peneliti dunia.

Percaya tidak percaya, sejak ratusan tahun yang lalu orang-orang sering melihat orang-orang bertubuh pendek yang disebut dengan "Uhang Pandak".

"Uhang Pandak" dalam bahasa Kerinci artinya orang pendek.

Uhang Pandak yang tingginya sekitar 50-60 cm itu merupakan perpaduan antara manusia dan monyet, atau setengah monyet dan setengah manusia.

Rambut Uhang Pandak riap riap panjang, berjalan tegak seperti manusia namun mereka memiliki kaki yang terbalik. Kaki terbalik ini, tumitnya berada di depan tapi jari-jarinya berada di belakang.

Dulunya konon Uhang Pandak ini dapat ditangkap manusia dengan menggunakan perangkap.

Pertama kali adanya cerita Uhang Pandak itu berasal dari catatan Marcopolo yang pernah berkunjung ke Sumatera pada tahun 1292. Catatan itu mengisahkan sosok yang kini dikenal sebagai Uhang Pandak.

"Ada sosok monyet yang berukuran kecil namun wajahnya wajah manusia" tulis Marcopolo, dikutip dari buku "Sumatera Tempo Doeloe" karya Anthony Reid..

Marcopolo juga menulis makhluk itu rambutnya panjang sampai melebihi dagu.

Sejak awal 1900an saat Indonesia dijajah Belanda tak sedikit laporan dari orang-orang asing yang sempat melihat makhluk itu.

Namun ada satu laporan yang menonjol dan menarik perhatian banyak orang.

Pada tahun 1923 seorang zoologi (ahli ilmu hewan) yang bernama Van Heerwarden menulis catatan bahwa dia bertemu dengan makhluk hitam rambutnya panjang tingginya seperti anak kecil berusia 3-4 tahun, tapi dengan wajah yang lebih tua.

"Tubuhnya dipenuhi bulu," tulisnya.

Van Heerwarden sadar bahwa makhluk itu bukanlah sejenis monyet, orangutan, siamang dan sejenisnya. Dia sadar makhluk-makhluk itu segera menjauh dan berlari menghindari dirinya.

Dari kesaksian Heerwarden diduga mahluk itu bukanlah hewan tapi manusia.

Dalam hal itu, Heerwarden tak habis pikir, makhluk-makhluk itu memegang tombak dan berjalan tegak.

Hal itulah yang membuat penasaran Heerwarden untuk mengetahui lebih lanjut, namun usaha mencari tahunya itu selalu tak membuahkan hasil.

Catatan Marcopolo tadi memancing para peneliti dari Eropa untuk datang ke Propinsi Jambi. Uhang Pandak ini masuk ke dalam salah studi Cryptozoology.

Ekspedisi pun dilakukan beberapa kali sekitar Gunung Kerinci, beberapa di antaranya dibiayai oleh National Geographic Society.

Namun sejak pertama kali mereka datang ke Taman Nasional Kerinci pada tahun 1990 hasil yang dicapai masih jauh dari kata memuaskan. Namun seorang peneliti asal Inggris Debbie Martyr mengklaim melihat makhluk yang selama ini "impian" itu pada tahun 1994. 

Peristiwa melihatnya Uhang Pandak itu setelah Debbie berada tiga pekan di hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Jambi. Debbie mengatakan tinggi Uhang Pandak berkisar antara 85-130 cm. 

Sama seperti kesaksian Van Heerwarden, Debbie juga mengatakan makhluk itu berjalan tegak dan memegang persenjataan tombak.

Sepertinya Uhang Pandak ini bukanlah Siamang atau primata lainnya namun manusia yang bertubuh pendek. Karena bentuk Uhang Pandak di Kerinci itu mirip dengan makhluk yang fosilnya ditemukan di Flores, Nusa Tenggara Timur beberapa tahun yang lalu.

Jadi dengan demikian, beberapa orang berpendapat jika Uhang Pandak di Gunung Kerinci, Propinsi Jambi itu adalah sisa-sisa Homo Florensiensis.

Jadi ada kemungkinan, dulunya entah kapan orang-orang Kerdil dari Flores itu pernah "berlayar" ke Jambi.

Sayangnya belum ada penelitian lebih lanjut apakah benar ada hubungannya antara orang kerdil di Flores dengan orang kerdil di Jambi.

Jika memang orang-orang kerdil dari Flores itu hijrah ke Jambi, bagaimana caranya, kapan waktunya, dan dalam peristiwa apa?

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Misteri "Uhang Pandak" di Jambi, Mirip Homo Florensiensis", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/rudywiryadi2000/618112f906310e103d286bc2/uhang-pandak?page=all

Kreator: Rudy Wiryadi

Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator.

Dikutip dari Kompasiana